Pengaruh Tarekat terhadap Kesalehan Individu
Pengaruh tarekat terhadap para pengikutnya sangat nyata
terlihat dalam pengamalan ritual-keagamaan. Mereka menjadi terikat
oleh suatu sistem dan teknik tertentu dalam berzikir khususnya
sebagaimana diajarkan oleh mursyid. Secara umum mereka
menikmati kebiasaan baru ini karena memang mereka sudah
memasrahkan jiwanya kepada mursyid. Bagi yang masuk kategori
ini, menekuni amalan tarekat akan menjadikan kehidupan terasa lebih menenteramkan.
Antara lain, seperti pengakuan Zainun, yang mengaku dibai’at
secara langsung oleh TGH. Abhar pada tahun 1988 secara
jama’i/bersama-sama dengan orang lain. Dikatakannya;
Dengan masuk tarekat, menambah ketenangan jiwa persis seperti
firman Allah “alâ bi dzikrillâhi tathmainnul qulûb”. Kalau sudah lama
mengamalkan ajaran tarekat seperti saya alami, bahkan bisa
ketagihan. Tak ada malas-malas. Terhadap dunia, karena saya
semakin bisa menyikapi dengan zuhud dan bisa membatasi diri.25
Pengikut lain, H. As’ad Ma’rif, menuturkan pengalamannya;
Saya dulu diba’ait oleh Datuk sewaktu pondok masih di Timur
(Pagutan dekat pasar, pen). Sampai kini, alhamdulillah masih aktif
terus. Saya selalu mengikuti pengajian hari ahad, juga kadangkala hari
selasa dari pada nganggur di rumah (Biasanya selasa untuk ibu-ibu,
pen). Rasa-rasanya enak, bersahaja, tenang begitu …. Apalagi kalau
ingat menghadapi mati nanti, syukur rasanya saya sudah masuk
tarekat. Makanya Mas ikut saja, biar merasakan nikmatnya. Kalau
orang tidak ahli zikir bisa macam-macam yang terjadi waktu sakaratul
maut. Kan itu tergantung bagaimana kebiasaan orang, yang biasanya
mencuri atau sabung ayam, tentu beda dengan yang ahli ibadah. Lalu
seminggu sekali kami dari Jempong Barat mengadakan kegiatan rutin
di masjid Nurul Huda, yaitu istighatsah, yang dipimpin oleh H.
Mukhtar beliau ini murid Datuk Bahar juga yang menjadi ketua
jama’ah di daerah kami. Jadi, motivasi utama umumnya para pengikut adalah
meningkatkan keimanan, tidak lebih dan tidak kurang.
Pengaruh tarekat terhadap para pengikutnya sangat nyata
terlihat dalam pengamalan ritual-keagamaan. Mereka menjadi terikat
oleh suatu sistem dan teknik tertentu dalam berzikir khususnya
sebagaimana diajarkan oleh mursyid. Secara umum mereka
menikmati kebiasaan baru ini karena memang mereka sudah
memasrahkan jiwanya kepada mursyid. Bagi yang masuk kategori
ini, menekuni amalan tarekat akan menjadikan kehidupan terasa lebih menenteramkan.
Antara lain, seperti pengakuan Zainun, yang mengaku dibai’at
secara langsung oleh TGH. Abhar pada tahun 1988 secara
jama’i/bersama-sama dengan orang lain. Dikatakannya;
Dengan masuk tarekat, menambah ketenangan jiwa persis seperti
firman Allah “alâ bi dzikrillâhi tathmainnul qulûb”. Kalau sudah lama
mengamalkan ajaran tarekat seperti saya alami, bahkan bisa
ketagihan. Tak ada malas-malas. Terhadap dunia, karena saya
semakin bisa menyikapi dengan zuhud dan bisa membatasi diri.25
Pengikut lain, H. As’ad Ma’rif, menuturkan pengalamannya;
Saya dulu diba’ait oleh Datuk sewaktu pondok masih di Timur
(Pagutan dekat pasar, pen). Sampai kini, alhamdulillah masih aktif
terus. Saya selalu mengikuti pengajian hari ahad, juga kadangkala hari
selasa dari pada nganggur di rumah (Biasanya selasa untuk ibu-ibu,
pen). Rasa-rasanya enak, bersahaja, tenang begitu …. Apalagi kalau
ingat menghadapi mati nanti, syukur rasanya saya sudah masuk
tarekat. Makanya Mas ikut saja, biar merasakan nikmatnya. Kalau
orang tidak ahli zikir bisa macam-macam yang terjadi waktu sakaratul
maut. Kan itu tergantung bagaimana kebiasaan orang, yang biasanya
mencuri atau sabung ayam, tentu beda dengan yang ahli ibadah. Lalu
seminggu sekali kami dari Jempong Barat mengadakan kegiatan rutin
di masjid Nurul Huda, yaitu istighatsah, yang dipimpin oleh H.
Mukhtar beliau ini murid Datuk Bahar juga yang menjadi ketua
jama’ah di daerah kami. Jadi, motivasi utama umumnya para pengikut adalah
meningkatkan keimanan, tidak lebih dan tidak kurang.









